Madura, It’s not as You Think


Persepsi TR tentang Madura berubah ketika mengeksplore pulau garam dari ujung Kamal, Bangkalan sampai Kalianget, Sumenep. Bagaimana bisa begitu?

Di Kabin Harjay yang bosok

Di Kabin Harjay yang bosok


Pukul 15.00 kami sekeluarga mulai berangkat dari Kediri menuju Surabaya dengan Bus Patas Harapan Jaya. Sayangnya bukan Legacy atau Actor apalagi Mercy, namun patas Hino lama, TR kira dibawah Nukleus-lah.. wes, jan TR mulai ngelu, untungnya minyak oles selalu di tas kecil, maklum wes mambu tuwek gara-gara kesuwen nok embong. (maklum sudah bau tua, gara-gara kelamaan di jalan).

Mila Sejahtera go to Seoulmenep

Mila Sejahtera go to Seoulmenep


Sekitar pukul 19.00an, kami sampai di Bungurasih, kamipun beristirahat dulu untuk makan dan ke toilet. Kami harus menunggu bus Patas ke Sumenep sampai 2,5 jam lamanya. Alhamdulillah, jam 21.30 bus Mila Sejahtera nyampe juga… Istri TR lincah sekali klo masalah cari tempat duduk, super ngeyel sama penumpang lain..hahaha Thanks bunda.. :bunda:
sampang

sampang


Mila Sejahtera menyusuri malam di Surabaya untuk menembus menyeberangi selat Madura via Suramadu. Setelah belokan kanan ke arah timur pulau Karapan Sapi tersebut, TR mulai merasakan ngantuk. Dan akhirnya goyangan dombret bus yang ngebut membangunkan dari lelapnya tidur.. Karena suasana gelap, pencarian posisi TR lakukan via Google Maps. Wah, sudah sampai Sampang.

Jalur pesisir selatan Madura yang lurus-lurus itu dilahap kencang, sekilas TR melihat seperti melewati jalanan yang tak akan berujung karena saking banyaknya jalan lurus. Dengan deretan pepohonan yang seragam di kanan kirinya, seperti melewati sebuah lorong puannjangg sekali.:mrgreen: Di sebelah kanan terkadang terlihat segaris putih.. ahaaa… itu Laut..🙂

Pukul 01.30 Dinihari, akhirnya kami sampai di Sumenep, kota yang mempunyai lambang Kuda Jingkrak. Sebelum menuju rumah mbah, kami menjenguk budhe yang memang saat itu sedang kritis di ICU RSUD Sumenep. Dan, tujuan kita ke Sumenep adalah untuk itu.

Pukul 02.00 setelah sholat, minum teh dan ngobrol dengan Om dan Bulek. Kamipun terlelap dalam mimpi..

jalan ke Kalianget dari Sumenep

jalan ke Kalianget dari Sumenep


Pukul 04.15 pagi, adzan Subuh sudah berkumandang di bumi Sakera. Sholat , kemudian mandi pagi dan sarapan. Menunya sangat nyuss.. yaitu Apen. yaitu mirip-mirip serabi gitulah, namun ini khas Madura.
Pagi itu kami kembali ke RSUD untuk membesuk budhe dan mendoakan dengan surah Yaasin. Karena dirasa masih ada waktu luang, maka kamipun menuju ke Kalianget untuk silaturrahmi ke kakak sepupu dengan naik mobil pinjaman dari adik ipar yang kebetulan pagi itu dinas pagi di RSUD.

Alhamdulillah, dengan modal tanya-tanya dan feeling, kami berhasil menemukan rumah beliau yang tepat dipinggir jalan raya. Waktu singkat itu kami luangkan untuk melepas kangen. Dan jam 10.30 kami sudah kembali ke RSUD. Di sepanjang jalan menuju kalianget, banyak terlihat gunungan garam. Kristal-kristal dari hasil penguapan air laut tersebut merupakan mata pencaharian warga kalianget.

Disaat sedang tidur di ruang tunggu, setelah sholat dhuhur, panggilan dari istri membangunkan TR. “mas-mas budhe..”. Ya Allah dan.. itulah moment terakhir dengan beliau. Akhirnya, dihadapan kami semua yang hadir, beliau menghadap Gusti Pangeran. selamat jalan budhe..😦
Pemakaman beliau dilakukan keesokan pagi. Sore hari, untuk mengisi waktu, TR dan istri jalan-jalan ke Masjid Sumenep yang terkenal itu dengan motor pinjaman. (akan TR ulas tersendiri)

Masjid Sumenep

Masjid Sumenep


Alhamdulillah, yang mensholatkan beliau pagi itu sangat ramai sekali.. subhanallah. Pemberitahuan kematian saling bersahut-sahutan di beberapa penjuru. Dan saling sahut-sahutan atau mirip lari estafet kalau boleh TR bilang, juga terjadi ketika keranda jenazah diberangkatkan ke peristirahatan terakhir. Prosesi yang beda dengan di Jawa.
Kaldu.. makanan khas Sumenep

Kaldu.. makanan khas Sumenep


Setelah menghabiskan kaldu 1 piring.(kikil, lontong, kacang hijau dengan guyuran kuah yang mirip gulai di Jawa)😆 Jam 13.00. Kami sekeluarga bergabung dengan keluarga bulek yang asal Kediri berangkat pulang. Dan TR yang gendut ini harus dipepes di jok paling belakang si GL alias grand Livina.😆 Ya wes gitulah rasanya duduk bertiga di kursi belakang..
DSCN5187
Perjalanan siang hari membuka kembali mata TR terhadap keunikan pulau ini. Di Sumenep dan Pamekasan, masih belum terasa kalau itu di Madura. Mirip di pulau Jawa. Namun ketika masuk ke Sampang dan terlebih melewati Bangkalan.. lha itu baru terasa warna Maduranya..
Ketika melewati Pamekasan di sebuah lapangan ada tontonan Karapan Sapi (cow race), sayang sekali karena rombongan.. yo cukup menikmati sekilas saja.
Dan pukul 21.30 an kami sampai di Kediri kembali dengan selamat.
tanah datar diujung sana @ Sampang

tanah datar diujung sana @ Sampang


Well, banyak orang berfikir bila orang Madura itu kasar, gampang carok dan susah diatur. Sebenernya tidak semua begitu
Panasnya cuaca Madura tak sepanas kota Surabaya, sepanas-panasnya disini masih sumuk/gerah suasana Surabaya. Dan, soto asli Madura itu gak ada patokan asli, karena semuanya bisa bikin Soto dengan selera masing-masing.
Sholat ashar di Masjid Sampang

Sholat ashar di Masjid Sampang


Semoga berkenan

This entry was posted in adventure, Bus Mania, humaniora, kuliner and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Madura, It’s not as You Think

  1. tombiez says:

    jalurnya pas banget buat touring kang. tapi awas hati2 banyak begal dsana kang kalo malem.
    pantainya sumenep bagus2 kang. gag kalah aama kute

    Like

  2. nopan says:

    jalan di madura timur rupanya mulus ya.
    saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya bude-nya mas

    Like

  3. andhi_125 says:

    sebelumnya turut berduka kang, meninggalnya budhe
    bai de wei, menyusuri jalur arah pamekasan maknyus pake motor…dulu almarhum GLMax saia, takpecut Malang-Pamekasan gak nyampe 4 jam, termasuk naik ferry plus sejenak meluruskan punggung di spbu dan pantai🙂

    Like

  4. innalillahi wainna ilaihi roji’un turut berduka mas, duwe dulur nek arudam juga to mas? lek mbakq ikut suaminya disana tapi masih sekitaran kamal😀

    Like

  5. marko says:

    Innalilahi wainna ilaihi roji’un turut berduka mas,

    Like

  6. pak tarno says:

    turut berduka mas.
    memang madura gak sekasar yg dibayangkan.
    orang madura itu tipenya orang yg berpegang teguh pada prinsip masing-masing.
    beh…jan asli ngueyel kalo udah maunya,
    tapi mereka kalo disopani malah lebih sopan, kalo dikasari ya lebih kasar, CAROK CONG….

    Like

  7. Mas Sayur says:

    turut berduka,cak…
    semoga amal budhe sampeyan di terima dan di ampuni semua dosanya
    aamiin…

    Like

  8. oman faqod says:

    turut berduka mas..
    btw sumenep poucuk etan dewe ki, sumenep itu konon katanya jawanya madura mas, jadi bener kata pyn masyarakatnya cenderung halus dan tidak kasar..

    Like

  9. Mas Wiro says:

    Walaahhhh…
    Turing rider kok naik bus? wakakakakaka

    Aq mubeng² Maduro numpak Pario…lumayan berempat matic semua
    Jadi lumayan imbang…NGEBUT’é:mrgreen:

    Like

  10. redbike92 says:

    Madura asyik oom buat touring😀
    cuma sayangnya beberapa kilometer jalan aspalnya kurang mulus hehehe
    lho oom TOuring Rider orang Sampang kah?
    tante ku orang Pamekasan hohoho (eh gak ada yang nanya ya hehehe)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s