Trip Pare-Batu, Demi Pangan, Si Pio Disiksa Ringan


persawahan desa songgokerto Paralayang

persawahan desa songgokerto

“Nasi putih terhidang di meja kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi dari manakah datangnya
Dari sawah dan ladang disana, petanilah penanamnya
Panas terik tak dirasa, hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih bapak tani, terima kasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia”

Lagu di tahun 90’an ketika TV di rumah cuma bisa nonton TVRI tersebut membekas dalam di hati TR. Well, jadi eksmud emang menggiurkan, tapi gak kerenlah jika nyruput kopi 40 ribu namun nunut wifi gratis, nongkrong di Cafe tapi makan mie di tanggal 15 keatas. Mending jadi petani, bermain tanah namun beratribut serba produk Eiger/Nordwand/Rei/Cartenz.😆

ngobrok winih sek rek..

ngobrok winih sek rek..


Setelah benih seberat cuman 43 Kg dinaikkan ke Pio, TR mulai melaju menysuri jalanan dari kawasan lereng Kelud menuju Pare kemudian Kandangan. Berjalan di jalanan rame dengan beban di buritan, membuat si Pio memang agak limbung. Yup, inilah kelemahan Pio jika angkut beban berat, steer terasa limbung. Dengan kondisi jalanan yang ramai, melaju dirata-rata 40 kpj adalah hal yang baru buat TR. Lha biasane jalan 80 KPJ kroso kalem, ini cuman separuh dari biasa, jan.. melatih kesabaran.
jalur Ngantang, mbetulin muatan dulu

jalur Ngantang, mbetulin muatan dulu


Melewati jalanan dari Pare-Batu, beberapa kali berhenti di Keling, di kandangan, di Kasembon dan Ngantang. TR berhenti hanya sekedar untuk kembali merapikan muatan di belakang. Maklum, muatannya kurang imbang terkena jalanan yang jelek.

Berjalan naik turun jalur berkelok Kasembon-Ngantang-Pujon merupakan uji mental tersendiri, berjalan pelan di kisaran 40-50 kpj, dikuntit kendaraan yang mengular akibat bingung mau nyalip, jelas bikin grogi.qiqiqi:mrgreen: Alhamdulillah, dengan hanya bermain di perseneling 1-3, jam 12.30 pun sampai di Songgokerto, Batu. Langsung loading barang trus istirahat bentar di rumah temen. Hujan pun turun secara tiba-tiba.

Sembari menunggu hujan reda kamipun ngobrol setelah sebelumnya makan rujak dan sholat dhuhur. Well, hujan sudah reda, matahari bersinar terang kembali, saatnya turun ke sawah. Sawahnya gak beda dengan yang kemarin TR pernah ceritakan, yaitu di seputaran areal landing Paralayang. Jika dari Malang, anda bisa belok kanan di jalan kecil sebelum Indomaret pertigaan Songgoriti/ Sebelum Ojek jalan searah dari Pujon.

terlihat jauh disana Jambuluwuk.. di kaki gn.Panderman

terlihat jauh disana Jambuluwuk.. di kaki gn.Panderman


Habis hujan suasananya jan sueger tur adem.. brr.. Batu ancen ngangeni sejuknya. Berjalan menyusi galengan dari petakan satu ke petakan lain. Di ujung selatan terdapat patok kayu yang menyatakan bahwa ada tanah dijual. Sejurus kemudian ceritalah seorang petani situ yang menginformasikan bahwa banyak sudah sawah yang dijual dan akan dijadikan perumahan/ villa. Masih ingat ketika tahun 2001-2008 ketika TR masih berdomisili di Malang, keberadaan villa-villa tersebut sempat diprotes sebagai biang kerok kerusakan alam di Batu. Well, tak dipungkiri, teman TR sendiri sambat bahwa sekarang sulit untuk mengakses air bersih. WTF.. astagfirullah😦
sawah-sawah ini akan musnah??

sawah-sawah ini akan musnah??


Mungkin panjenengan semua kenal dengan Sungai Brantas khan? sungai yang menjadi urat nadi di jawa Timur ini sumbernya berasal dari Batu. Lha kalau sekarang protes-protes itu sudah sirna dan peralihan lahan semakin marak, maka apa yang akan terjadi dengan sungai Brantas kita??
ah.. biarlah.. yang penting biarkan si Pio istirahat sebentar di parkiran paralayang, sebelum dia dipakai untuk kembali ke Kediri.
paralayang Batu

paralayang Batu

This entry was posted in adventure, batu, hobbies, humaniora, kritik, malang, scorpio and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Trip Pare-Batu, Demi Pangan, Si Pio Disiksa Ringan

  1. proleevo says:

    Turing yg menghasilkan… mantap…

    Like

  2. Mas Sayur says:

    ayem atine dadi petani..
    btw..aku juga masih ingat dan hafal lagu di atas..satu lagi ada tentang nelayan juga ada..tapi tak cari videonya di youtube kpq gak dapat,ya.. ?

    Like

  3. gusndul says:

    nang pujon para petani sing enom2 atribute podo volcom, quiksilver, spyderbilt, eiger dll xixixixi

    Like

  4. Sigit says:

    rumah istri di pare tp kalo pulang mesti cuma bentar, jd gak sempet muter2.. pdhl pengen juga..

    Like

  5. pak tarno says:

    wah, sawahnya jadi perumahan ya? bukan sepenuhnya salah pemilik villa sih, petani sendiri juga rela melepas tanahnya untuk dijadikan villa.

    Like

  6. Han:D says:

    Klo perjalanan jauh enaknya pke obrok yg di samping mas. Klo muatan tinggi mlah bahaya limbung. Pengalaman dlu sering kulakan buku kamus oxford aspal, tak jual di kampus UNP, hehehe…

    Like

  7. ochim kim says:

    ga bawa mobil to mas??

    Like

  8. argaso says:

    mas TR kie krjaane ap tow??kq ga mudeng saiaa,umpama tani kq gawene ngukuur dalaan a.k.a touring….

    Like

  9. ternyata emang enakan verza..tambah berat tambah asik…..jalur subang ciater lembang bandung setiap minggu ane lalu dengan bawa barang ful tetep asik bro……verza emang jago dah janlan nanjak mah

    Like

  10. KupuBaja says:

    wah sampean nek dolan moro cangar aq melu ya???wes suwe gak dolan rono….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s