Indahnya Pantai Pasir Putih Situbondo, Ganasnya Kopi Curahdami dan Gayengnya petani Grujugan


Walau hari minggu sebelumnya agak gak enak badan karena kecapekan, namun karena tugas ya wes berangkat mawon. Saya berangkat Selasa pagi ke Bondowoso-Situbondo ditemani dengan asisten lapang. Seperti biasa, jalur yang dilewati untuk menuju ke timur adalah Kediri-Batu-Malang-Lawang-Pasuruan-Probolinggo. Jalur pantura Pasuruan-Probolinggo terbilang padat lancar, hanya di beberapa titik harus berjalan pelan karena ada perbaikan jalan.

Memasuki kota Probolinggo ambil arah lurus, arah ke Situbondo. Sempat beberapa kali mengamati detail kota Probolinggo, wah kotanya terlihat sudah sangat maju dari saya dulu terakhir lewat, ya sekitar 5 tahun yang lalu. Menyusuri pantura, si biru mulai memasuki kecamatan Paiton dan melewati PLTU nya. Melewati jalur hutan bakau perbatasan antara Probolinggo dan Situbondo seakan berjalan melewati lorong nan hijau.
PLTU Paiton
Jalur sepi nan berkelok pantura timur membuat kami harus ektra konsentrasi, karena terkadang ada motor atau penyeberang jalan yang memotong jalan. sabarrrr…. Memasuki Situbondo tak afdol rasanya bila tidak mampir sebentar di pantainya. Pantai yang terhampar sepanjang perjalanan, membuat sejuk mata yang sudah lelah terkena kepadatan di jalur Pasuruan-Probolinggo tadi.

Kita mulai belok ke kanan, ke arah kecamatan Arjasa. Matahari sudah mulai tenggelam, setelah cek beberapa areal persawahan dengan bantuan lampu mobil, kami menuju ke rumah salah satu petani. Di perjalanan walau remang-remang,terlihat beberapa orang yang mandi di pinggir sungai. Sapi yang dikekang di pinggir jalan dan minimnya penerangan membuat saya de javu alias kembali teringat jaman dulu.

Namun, keadaan di dalam rumah perkampungan sangat kontras sekali, terang benderang oleh lampu-lampu. Rumah-rumah masih bertembokkan kayu dan berlantai tanah. Sempet kaget ketika akan sholat, “silahkan sholat di surau“. Lah saya pikir mushola kecil atau masjid, lha kok cuma gubuk kecil di deket kandang sapi. Jetika sholat di gubuk terdengar bunyi ayam dibawah gubug, weledalah.

Mas Rizal, nama petani arjasa tersebut mengajak kami makan ikan laut bakar di jalur pantura. Mantab, ikan kerapu bakar lahap saya makan, diiringi musik dangdut Prima Madura yang diputar dari VCD.

Jam sudah menunjukkan pukul 9,saatnya kita mencari penginapan. Kami merencanakan menginap saja di Bondowoso, karena besok akan berkutat disana. Setelah beberapa kali putar-putar kota mencari Hotel, akhirnya kami menginap di Hotel Anugrah yang murah meriah, disesuaikan dengan uang saku. Setelah mandi dan sholat, sayapun langsung tidur ditemenin tv 14″ yang menyala.

Jam 4.30, saatnya sholat subuh di Bondowoso. Setelah siap-siap, sarapan dan menyelesaikan administrasi ke Receptionist, jam 8 kami berangkat ke sawah. Tujuan pertama ke Curahdami.

Disambut dengan latar belakang pegunungan Argopuro, saya mengobrol dengan petani setempat di sebuah warung kopi. Setelah cukup, perjalanan dilanjutkan ke Kabuaran,Grujukan.

Tak disangka, walau sempat melibas jalan makadam akhirnya kami disuguhi pemandangan indah pegunungan Argopuro kembali. Suasananya benar-benar sejuk dan dingin. Suasana dingin karena hujan yang mulai turun dihangatkan oleh keakraban dan ganyengnya kami mengobrol dengan beberapa petani. walau, sebenernya terkadang nggak nyambung (ssttt.. saya gak begitu paham bahasa Madura). Alunan musik dangdut mengalun dari VCD pak yeyen, yup beliau adalah salah satu petani kami, yang kebetulan juga nyambi bekerja sebagai MC pentas dangdut diluar pekerjaan tetapnya sebagai modin desa.

Perjalanan kami lanjutkan ke arah Jember, karena saya bermaksud balik ke Kediri dahulu siang harinya. Di perjalanan kami berdua sempet saling curhat saling mengeluh gak enak badan, usut punya usut ternyata kopi di Curahdami tadi yang membuat kami agak setengah mabuk. Rasa nggak enak ini coba kami tawarkan dengan makan di warung bebas deket sebuah ponpes di jalur kec.Maesan. mantab lagi dah, ternyata warung langganan ini kali ini masakannya agak basi. :sick:

Masuk Jember saya sempatkan sholat jama’ dulu di sebuah SPBU. Setelah itu, kami berpisah di pertigaan Rambipuji. Saya akan naik bus ke arah Lumajang, asisten saya akan membawa mobil untuk mengambil panen di Kencong.

Bus AKAS non AC Armada Akas NNR (akas sekarang ada 3,CMIIW) jam 13.00 mulai menuju ke Probolinggo via Lumajang. Mulai memasuki Jatiroto Lumajang hujan mulai turun. Di Terminal kecil Kedungjajang/Sukodono bus mendapat tambahan penumpang operan dari bus lain. Entahlah bus apa. Dan, bus yang tadinya lengang menjadi semakin sesak. Beruntung disebelah saya adalah ibu seumuran 50 dan anak laki-lakinya yang berumur 2 tahun yang lucu bisa mengobati rasa bosan sepanjang perjalanan.

Turun di Terminal Probolinggo saya oper bus Patas ke Surabaya, sebenarnya sempet bingung sepanjang perjalanan Jember-Probolinggo tadi, mau ambil arah ke Surabaya atau Malang? dengan pertimbangan Bus Surabaya-Kediri tersedia 24 jam, akhirnya saya lewat Surabaya. Setelah membayar karcis 24ribu, saya mulai tertidur.
Terbangun kembali setelah masuk Nguling karena rasa lapar. Diluar hujan semakin deras dan deras-derasnya ketika masuk kota Bangil. Sambil menahan lapar, mual dan rasa demam saya sempat-sempatkan untuk bisa tidur.

Jam 19.00 sudah sampai di Bungurasih, wholaaa langsung mampir di warung untuk makan soto ayam dan teh hangat. Legaaa rasanya. Diberitahu petugas Dishub bahwa bus Patas Surabaya-Wates-Blitar masih ada, alhamdulillah.. Saya bisa turun di kantor dan ambil motor dulu. Jam 20.00 bus Rukun Jaya mulai meluncur di tengah hujan yang masih menemani perjalanan saya Rabu itu, dengan biaya Rp.30.000,-.
Jam 23.00 saya turun tepat di depan kantor Plosoklaten. Masih dengan cuaca hujan saya menyusuri 30km menuju ke rumah.

This entry was posted in adventure, Bus Mania, humaniora, Jember, Lumajang, work and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Indahnya Pantai Pasir Putih Situbondo, Ganasnya Kopi Curahdami dan Gayengnya petani Grujugan

  1. kalau masalah kopi lebih mantap ke kawasan gunung ijen masbro..kopi java arabica asli yang ngga mungkin ditemui di daerah manapun..seduhannya pun agak coklat bukan hitam seperti kopi kebanyakan

    Like

  2. Karis says:

    aiiiihhhhhhhh………lewat daerah saya gak bayar pajak nih hahahaha…..Situbondo indehaus yeuu

    Like

  3. gakkreatip says:

    kopi plus ciu. wk..wk..
    jebakan betmen.

    Like

  4. Dadot says:

    wah bener2 pejantan tangguh euy mas bro:mrgreen: mantabbb…..

    Like

  5. Yoshi says:

    Dulu masih kecil pernah ke pantai itu.
    Sekarang udah gede gak belum kesampaian pengin kesana lagi😦

    Like

  6. si Oom! says:

    kopinya bikin puyeng😈

    Like

  7. Tulus Budi says:

    ck…ck…ck…. maknyuzzzz…….

    Like

  8. kang_ulid says:

    sayang ga bsa ktemu, kalo k situbondo lagi, call me ya

    Like

  9. Syaifull says:

    mang berapa tarif hotel anugrah tu per malam bro?????

    Like

  10. sutris says:

    manteb jdi pengen yobain

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s