Hari ke-3 #Pulang dari Jember via piket-0 (nol), merasakan uang saku menipis


Alhamdulillah, sudah pagi ke-2 di Jember atau hari ke-3 mbolang dalam rangka kedinasan. Setelah sholat subuh, saya langsung menyiapkan mobil.

Sempat ketar-ketir dan semalaman kepikiran, lha wong uang saku tinggal Rp.50.000,-, mana balik sendirian, sedang BBM sudah menipis, lha trus nanti kalau BBM habis? lapar di perjalanan gimana? pikiran itu terus menggelayut. Ya wes, bismillah berangkat pulang dengan modal nekatsemeru dari Pronojiwo.

Oh ya, teringat bahwa istri mengirim uang saku 200ribu via BRI. Kok ya pas apes, padahal ATM di sebelah rumah teman adalah BCA, dan parahnya lagi pin ATM BRI lupa-lupa ingat. Di BRI Gumukmas coba ambil uang, asemmmmm… lali tenan rek pin-nya. Walhasil, transaksi gagal. Nekat lagi, berangkat lagi.

Untuk menghemat BBM, AC dimatikan, cara mengemudi juga alus-sealus-alusnya. Jalur terdekat untuk balik Kediri adalah lewat jalur selatan/ Pasirian. Toh, jika nanti kepepet di wilayah Malang, disana masih banyak teman dan saudara yang bisa dimintai tolong.

Dari Kencong ambil jalur Yosowilangun, Kunir, mbasuk Kunir kidul memotong jalan, keluar di seberang kebun benih Tempeh. Truk-truk pasir dan pengangkut kayu mulai ramai di jalur selatan ini. Weladalah, yo wes nyantai saja. Masuk Pasirian, mulai terlihat jelas Gunung Semeru yang mengeluarkan asap tebal. Subhanallah, berkali-kali minggir untuk sekedar memotret kegagahan Gunung Semeru tersebut.

Saking asyiknya sering ambil foto, di Pronojiwo ban saya selip ke got. wassemmmmm, main gas maju mundur akhirnya nisa lepas dan melanjutkan perjalanan.
Kali Leprak Piket 0
Dan inilah yang saya tunggu, Piket 0. Dari jembatan yang melewati Kali Leprak, terlihat hamparan kota Lumajang. Kenapa disebut Lumajang? karena kota/kabupaten ini dari atas terlihat seperti ajang (piring.red). Subhanallah, indah sekali pemandangannya.
Sebenernya, pagi itu sudah banyak warung yang mulai buka, tapi ya karena sangu tipis, yawes isone ngowoh.

Perjalanan setelah itu agak tersendat, terhitung ada sekitar 20 truk pengangkut pasir yang saya salip di jalur berkelok Pronojiwo-Dampit. Terkadang ada 5 truk yang mengular, ya wes tinggal kitanya tatag apa ndak bermanuver salip-menyalip di jalur rawan tersebut. kalau ndak berani, ya siap-siap bosen di belakang truk.

Dan, horrayy.. masuk Ampelgading. malang!!!! begitu teriak dalam hati saya. Sekilas melirik posisi indikator BBM, alhamdulillah cukuplah sampai Kepanjen.

Masuk kecamatan Dampit saya ingin mampir ke rumah temen, siapa tahu dapat sarapan gratis. Lah kok ternyata dia lagi di Malang kota. Saya pun mencoba kembali mengambil uang di ATM, apes… kombinasi pin yg saya masukkan salah lagi. Dan akhirnya DIBLOKIR!!
jalur Lahor josss
Tak patah arang, kendaraan saya arahkan langsung pulang via jalur waduk Lahor- Wlingi-Blitar. Sujud syukur alhamdulillah, sampai di Kediri, penunjuk BBM belum menyentuh huruf “E”. Setelah dihitung, perjalanan 758km membutuhkan 38 liter Solar.

Pelajaran yang saya petik dari hari ke-3 ini adalah, bahwa “serahkan saja hasil akhirnya semua kepada Allah, Allah pasti akan memberi jalan keluar jika kita berusaha.”

Jika lain kali harus kembali ke Jember atau Lumajang, saya berharap mbolang kere alias nekat-nekatan tidak terulang lagi. tapi andaikan terjadi, wallahu ‘alam..

This entry was posted in adventure, Jember and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Hari ke-3 #Pulang dari Jember via piket-0 (nol), merasakan uang saku menipis

  1. rusyanto ardi says:

    jalur kono pancen mantep kang, pernah lewat sana malam2 eh suueepi banget cuma saya dan seekor bus mini yg lewat

    Like

  2. bimo96 says:

    Lumajang kota yg indah,.,hahahaha

    Like

  3. gogo says:

    panther emang irit..

    itu jembatannya keren.. jd pengin hunting disana.. jos

    Like

  4. lexyleksono says:

    Jember, Lumajang kota yg tidak asing bagiku… lha wong aku asal Jember..he..he.

    Like

  5. jnakawara says:

    nampoooll

    bagi tips nihh..
    http://nakawara.wordpress.com/2012/03/24/tips-hindari-ranjau-paku/
    mampir gaan.. semoga berguna🙂

    Like

  6. andhi_125 says:

    tumben sam, sampek kentekan??:mrgreen:
    aku malah sering😆

    Like

  7. Anonymous says:

    sip tenan bro. syukur ra koyo aku. jember kediri minyak rem bocor, jd pake rem ngurangi gigi. jalan cukup 40 km/jam, hari sudah malam dan bengkel beberapa buka tapi pas dompet hanya cukup untuk solar itupun hanya 1/4 tangki

    Like

  8. gbk says:

    sip tenan bro. syukur ra koyo aku. jember kediri minyak rem bocor, jd pake rem ngurangi gigi. jalan cukup 40 km/jam, hari sudah malam dan bengkel beberapa buka tapi pas dompet hanya cukup untuk solar itupun hanya 1/4 tangki

    Like

  9. astri says:

    pancene ,, jalur malang lumajang sereemm..
    banyak belokan,,, tapi.. itu akan jadi kebiasann kalo mau pulang kampung… heheee…
    welcome ampelgading…

    Like

  10. archnine says:

    ngatur jadwal buat keliling via piket nol mas. penasaran jhe, mosok meh 10th nang malang durung pernah nyoba hahahaha…
    kalo menurut saya ada dua pelajaran mas yang bisa diambil hikmahnya :
    1. “serahkan saja hasil akhirnya semua kepada Allah, Allah pasti akan memberi jalan keluar jika kita berusaha.”] >> setuju banget mas.
    2. pelajaran tambahan mas, isuzu panther rajanya diesel wkwkwkwk…

    Like

  11. ABY says:

    mantab banget pak… klo sya gak ada bosen2nya pulang kampung ke lumajang lewat piket-nol..
    selama kuliah di malang malah gak pernah pulang lewat probolinggo.. haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s