Festival Malang Kembali (2nd & 3rd days)


2nd Day

“Siang.”

Setelah selesai sholat Jum’at, saya dan teman-teman Wearnes yang magang, meluncur ke area FMK lewat jalan Retawu. Acaranya bagi-bagi koran Jawa Pos, gratis.. Jawa Pos membagikan koran gratis sejumlah 500 eks, selama 3 hari (23 – 25 Juni 2008), untuk anda pengunjung setia Malang Kembali.

” Kuda aja butuh Informasi”

Di panggung utama (Pendopo Agung) ada gladi bersih Pemilihan Kakang Mbakyu Cilik 2008. Kasihan ya, dari siang udah pake busana tradisional Malangan. Padahal acaranya saja habis magrib nanti. Saya aja yang pernah memakai baju tradisional jawa, jadi “manggalayudha” di acara nikahannya tante Riagil, baru 1 jam terasa sumuk(gerah) mintak ampun. Sinar matahari siang ini, memang terik banget, sehingga tak banyak pengunjung. Kita pun juga kepanasan, akhirnya kita putuskan untuk pulang.

“Malam.”

Karena penasaran suasana FMK malam hari, saya dan anak WG 17 F meluncur ke ijen. Wooo… macet banget. Setelah putar-putar agak lama akhirnya dapat tempat parkir. Masya Allah, ni manusia apa semut. Ribuan orang berjubel malam ini, desak-desakan. Cuma bisa liat stand orari yang memperdengarkan lagu dari piringan hitam dan mamamerkan pesawat telekomunikasi jadul. Tak mau kalah dari Panggung sebelah, terdengar lagu Campursari dari para Waranggono.. MC membawakan acara dengan bahasa jawa yang sangat halus (jawa kromo inggil, plus jawa kawi). Saya pun rasan-rasan dengan teman saya
“orang malang mana tahu bahasa itu’.

“Campursari”

Suasana romantis cukup sebagai penghibur kita malam itu. Ditemani lampu ublik, sinar lampu petromak yang menerobos dari para-para stand penjual makanan. Mata, telinga hati dan pikiran saya benar-benar terhibur “Pagelaran Wayang Orang” di panggung utama, dan “Ludruk Suroboyoan(surabaya)” di panggung jalan Trip. Kapan lagi bisa nonton Ludruk dan Wayang Orang dari deket kalo gak malam ini.

” Pagelaran Wayang Orang”

Pulang yukk… dah laper neh, besok kesini lagi…

3rd day

Wah, mumpung Sabtu. Pokoknya gak ada waktu sebentar di FMK ini, harus lama. Dengan jumlah penonton yang tidak begitu ramai, siang sampai sore itu suasana malang tempo dulu sangat ternikmati. Kita juga nikmati rujak petis loh, Cuma Rp.3000,-. Sambil menunggu dibuatkan ama ibunya. Saya mencoba ikut mengaduk adonan yang akan dibuat jenang (sejenis Dodol) di stand sebelah.

” ini bikin Jenang, bukan Dodol tau!!. ah lama-lama loe dodol juga ya…”

Bapak-bapak dari Pakis(salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten malang) ini, kuat sekali mengaduk campuran tepung ketan, gula, minyak kelapa, sereh dan banyak bumbu lainnya. Untuk bisa sampai kental menjadi jenang, harus tetap diaduk sampai 6 jam. Dengan api yang stabil. Wah, sayang matengnya baru jam 7 malam nanti. Menurut pak No. Biasanya orang Jawa jika punya hajatan gak lengkap jika tidak membuat jenang ketan. Yang ngaduk pun gantian, antara yang punya rumah dengan Nayogo (pemukul perkusi Gamelan Jawa). Di dekat tungkunya juga ada secangkir kopi, bawang putih dan cabe besar yang ditusuk kaya sate, kelapa utuh dan bunga 7 rupa sebagai sesaji.

Sambil menikmati rujak (walo bau kotoran kuda, woe..), kita liat topeng monyet (kethek ogleng), terlihat anak kecil yang takut-takut untuk mendekat.

” berani gak ya…”

Di depan stand telkomsel ada lomba Gobak sodor. Rencananya kita mau ikut. Tetapi ternyata sudah penuh pesertanya. Ada pula yang angon(menggembala) bebek juga..

Enaknya dibakar tuh bebeknya….

Dan ini oleh-oleh buat anda…..

“Eits… itu punya kamu ya ndut…???”

4th day..
Udah capek banget…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s