KAMPUNGKU KEBANJIRAN!!!!!


Akhir tahun 2007 merupakan peristiwa siklus banjir 10 tahunan di kampong saya Banjarsari . Di situs berita Jawa Pos Online, edisi Radar Madiun diberitakan bahwa Desa Kelun sebelum terkena banjir pada bulan Desember ini, terkena bencana angin puting beliung (tepatnya tanggal 27 November 2007).

Alhamdulillah, keadaan di rumah baik-baik saja (saya tanyakan kepastian tersebut lewat telpon). Padahal Desa Kelun hanya berjarak -/+ 100meter dari rumah saya. Hanya akses jalan keluar masuk kampung saya terputus akibat banjir yang sampai saat ini masih terasa hebohnya di seluruh jawa timur.

Dari segi geografis kota madiun terletak di dataran rendah (63 m dpl), dan terdapat aliran bengawan (sungai besar) Madiun yang merupakan muara dari sungai-sungai yang muncul dari gunung Lawu, gunung Wilis dan gunung Kelud yang terletak di sekitarnya. Otomatis jika terjadi hujan lebat, air hujan akan terkonsentrasi di wilayah yang lebih rendah.

Jika dirunut dari berita tersebut kelurahan Kelun terletak di dataran terendah (masak iya sih??). Memang begitu faktanya, jika anda sempat melintas di jalur alternatif Madiun-Caruban. Posisi lahan sawah dan rumah warga terlihat lebih rendah sekitar ½ -1 meter dari jalan. Bahkan saya sering ketar-ketir lewat “bok malang” jika banjir. Dikarenakan letak jalan disebelah sungai yang meluap-luap jika banjir, kemungkinan kuatnya arus akan mampu menarik roda atau kaki (ih, ngeri !!). Tentu daerah perumahan Kartoharjo Indah dan Telaga Mas yang ada di desa tersebut adalah sasaran empuk banjir.

Juga di daerah Madiun ada suatu lokasi bernama “TUK BUNTUNG”. Tuk buntung adalah suatu sungai bawah tanah yang tidak diketahui ujungnya. Sehingga air akan langsung “hilang bagai ditelan bumi” jika masuk sungai ini. Memang dimana tepatnya ujung sungai ini saya tidak pernah tahu (kabarnya di daerah Rimba Raya/ Pusdik Kehutanan). Pernah sewaktu saya masih kecil, ada banjir besar yang melanda Madiun. Ada anak muda yang terseret masuk aliran sungai tersebut di dekat Telkom yang lama (Samping Pasaraya Sri Ratu), dan jenazahnya tak dapat ditemukan karena masuk labirin sungai bawah tanah tersebut.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s