PUNK (sebuah fenomena sosial #1)



Tawuran massal terjadi di Dome UMM malang pada Sabtu,8 Desember 2007. Kekisruhan sudah terjadi pada saat awal, yaitu pada saat seleksi masuk penonton. Dimana barikade panitia berhasil dijebol.

Dalam acara Rockphobia yang diusung oleh Marlboro mix 9 tersebut, tidak sampai terjadi tindakan anarkis. Dan tawuran tadi hanya sebatas tawuran “tradisi” dari anak PUNK, yang menonton konser Saint Loco dan Superman is Dead malam itu.

Walaupun begitu, pihak panitia dan Sampoerna Malang sebagai sponsor, sempat kewalahan dan ketir-ketir. Umumnya konser Rock diadakan di ruang terbuka, akan tetapi semalam diadakan di Dome UMM yang merupakan ruang tertutup. Kekhawatiran tersebut timbul dari banyaknya massa, sehingga ditakutkan struktur beton dari gedung tersebut akan ambrol dan membahayakan penonton.

Dengan model rambut ala “Kangen Band”, Celana panjang ketat atau celana pendek ketat. Aksesoris besi di sekujur tubuh, tindik dan kostum hitam, sehitam kulit mereka yang jarang mandi, saya jadi terenyuh.

“Anak’e sopo ae rek?”
“Blas gak ketok nek wong, ndrembis (dekil)”

Jika anda sering ke kota Batu, maka di perempatan Klenteng akan dilihat banyak anak-anak hilang seperti ini. Walaupun mereka tidak melakukan tindakan kriminal, akan tetapi dandanan mereka sangat tidak sedap dipandang, karena mengurangi kenyamanan.

Menurut liputan mas Kholid Amrullah, wartawan Jawa Pos Radar Malang wilayah Batu. Mereka rata-rata berasal dari luar kota Batu. Untuk hidup sehari-hari, mereka mengandalkan dari kesetiakawanan dari sesama PUNK dan hasil ngamen. Bisa diterka juga, bahwa sebenarnya rata-rata dari PUNK berasal dari keluarga yang berada. Sehingga, selama 3 jam konser saya amati secara detail, person per person, bahwa tidak semuanya PUNK dekil. Banyak juga yang keliatan terawat. Baik dilihat dari dandanan ataupun dari wajahnya.

Walaupun begitu, mereka adalah masalah sosial bagi kita. Masalah yang timbul akibat derasnya budaya luar yang tidak terfilter. Meski mereka mampu memfilter sendiri, tetapi apa lacur, mereka itu rata-rata masih anak muda yang emosinya masih tinggi, yang masih membutuhkan uluran tangan kita untuk menemukan jati dirinya. Sehingga, tenaga anak-anak muda tersebut tidak tersia-siaka hanya dengan tawuran massal saja.

This entry was posted in malang. Bookmark the permalink.

2 Responses to PUNK (sebuah fenomena sosial #1)

  1. cieroen says:

    enomena punk memang menarik untuk dijadikan refleksi bagi kita semua..mengapa demikian??menurut saya mereka bukan hanya tidak mampu memfilter derasnya arus modernisasi namun mereka hanya butuh diarahkan, mereka tidak salah namun mereka hanya belum mengetahui hakekat kebebasan itu seperti apa…banyak aspek positif yang sudah mereka bangun, namun hal tersebut rupanya telah terlupakan oleh cover punk yang mereka usung..saya kira hal ini perlu dikaji lebih dalam,,dan bisa di'ilmiahkan dalam format penelitian..terimakasih

    Like

  2. memang fenomena yg menarik. btw, ngeri juga liat mereka. walaupun saya cuek2 saja krn sudah terbiasa.Klo diformatkan dlm penelitian sih sy setuju. tp jangan saya.he3.biar adek2 yg masih kuliah itu saja.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s