
Setelah dirasa segar menyantab durian sampe mblenger kemaren, saatnya bekerja sembari touring kembali.
Kali ini tujuannya adalah ke Pamotan, seperti yang pernah diceritakan di link (ini), pamotan merupakan desa yang penuh sejarah, yaitu tempat cikal bakal berdirinya Lamongan.
07.30 saya baru saja siap untuk berangkat, beberapa kali berhenti untuk mbetulin GPS yang diset memakai IGO Amigo, sayang sekali lock satelitnya payah. Sedangkan Garmin saat itu error..akhirnya nyalakan saja yang Papago. Kenapa GPS kali ini saya bawa? Karena hari itu ingin mencoba jalur baru via kambangan, dan jalur ini asing bagi saya.
Riding menyusuri jalur Pare- Cukir- Jombang – Ploso bagi saya adalah suatu hal yang menyebalkan. Traffic di jalur ini sangat crowded, nggak pakai mobil gak pakai motor, ketika lewat jalur ini dituntut sabar dan extra waspada. jalurnya memang ramai, namun yang memperparah adalah banyaknya truk muatan pasir, motor yang mengalir tanpa henti dan seringkali motor-motor ini berbelok se-enaknya. Damn!! ![]()

09.34 baru sampai di kabuh. What the loonggg time riding. Karena belum sarapan dan konsentrasi terhadap jalan agak menurun, akhirnya mampir dulu di Indomaret kabuh. Sebotol air mineral dan sepotong roti sudah cukup memberi tambahan energi untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati kawasan Radar 222 dan hutan Jati Kabuh, di Pasar Kambangan saya melihat GPS. Wahhh, jalanan yang akan saya lewati belum terupdate. Whatever, pakai Garcot saja alias tanya penduduk sekitar. Tanya di sebuah bengkel, bapaknya kasih penjelasan yang seadanya.. “lurus saja mas, nanti tanya lagi disana”. Bukan jawaban yang saya harapkan, padahal ya wes turun dari motor, lepas helm dan nuwun sewu. Verdomseh!! eh persetan, lanjut ikuti naluri saja. ![]()
Whola.. mulai masuk ke forest road alias jalan di tengah hutan. Untuk aspalnya sendiri di beberapa titik masih bagus, namun di banyak titik sudah mengelupas dan menjadi makadam. Tentunya riding melewati jalanan tanah lebih mengasyikkan, dengan duduk agak ke depan, tentunya tekanan ke roda depan semakin besar untuk meningkatkan traksi di ban depan agar tidak selip. Maklum, ban yang saya pasang di scorpio type jalan raya.

Ketika melibas jalanan di Wates Winangun, saya mencoba bergaya riding seperti Charlie atau Ewan, dengan standing ride.. lah, kok dipikir-pikir keduwuran alias ketinggian postur.
Bunyi arm belakang si Pio memang mengasyikkan, ngik ngokk.. ngikkk ketika melibas jalanan makadam.wkwkwkwk.. Maklumlah, bushing lengan ayun yang harusnya dari karet sudah berganti dengan laher besi.

Dan sampailah di pertigaan yang ada tulisan Jatipandak 2KM, dan disudutnya ada Tulisan Kantor KPH Garung. Wah saya pernah lewat ini.. dan feeling ternyata memang salah satu cara ampuh untuk menemukan jalan. Belok ke kanan melewati Kali Lamong untuk kemudian menuju Jatipandak.
10.07. Mulai menyusuri lorong di bawah hutan jati di KPH Garung dan jatipandak, and when i look into GPS, that gadget look nothing without an update map.. Lost… Untungnya sesekali nyantol di GPS lokasi desa dimana saya berada saat itu.
2 kali melewati jembatan dari kayu atau istilah kerennya buk gluduk, karena jika kita lewat jembatan dari balok kayu tersebut akan berbunyi gluduk-gluduk gluduk khas bunyi benturan sesama kayu. Tak lupa di jembatan ini atau di tempat yang agak creepy uluk salam, assalamu’alaikum…
18 menit kemudian. Sudah masuk jalanan ke Desa Pamotan, jalanan cor dipinggir hutan di sebelah kiri dan hamparan jagung yang sedang ramai dipanen mengingatkan akan film “The Village”, Film yang muncul di tahun 2000-an tersebut mengisahkan tentang suatu desa yang sengaja mengisolasi diri dari dunia luar dan terletak di tengah-tengah hutan.
Di sebuah perempatan, dekat kantor desa sempat bingung arah menuju dusun Sapon. Tanya warga ditunjukkan bahwa jalan ke utara membelah perkebunan jagung dan alas jati itulah jalanan menuju Sapon. weikss.. jalanan yang berbeda dari kunjungan pertama.

Dan wholaaa..10.27 sudah sampai gerbang masuk Sapon. Kemudian menuju sawah diujung desa yang menjadi tujuan saya. Motor ditipkan ke rumah penduduk di ujung kampung yang kebetulan juga toko kelontong kecil, kemudian dilanjut jalan kaki sekitar 1 km ke persawahan. Sempat beberapa kali bertemu dengan petani setempat, tentu saja mereka menyapa dan bertanya kepada orang asing seperti saya ini yang berjalan sendirian ke arah hutan, ada yang mengira tukang listrik, tukang kredit, petugas perhutani, namun ada pula yang mengenali siapa saya.. Ngobrol sejenak di pematang sawah dengan petani yang mengeluhkan tentang hama dan penyakit tanaman padinya. Sharing dan transfer ilmu dolooo..
Setelah check dan recheck dan memberi bantuan arahan ke petani, saatnya balik, rencana perjalanan dilanjut ke Pata’an. Ada telpon masuk, aaa.. dari petani Pasuruan, well akhirnya ngobrol lama di gubug tengah sawah. tak terasa sudah sampai jam 11.15 banyak petani yang sudah mulai pulang. Ikutan cabut..
11.38 mulai kembali menapaki jalur yang tadi, rencana ke Pata’an dicancel saja karena hawa terasa sangat panas dan sumuks, gerahh ueeyy!!
Kembali mengamati petak-petak tanaman warga, ternyata ada patok penanda antara petak satu dengan petak sebelahnya. Di lokasi yang sudah bersih terlihat tanaman keras dan juga pohon jati yang mulai tumbuh. Upaya tumpang sari, sembari menunggu tanaman kerasnya tumbuh tinggi.

Adzan dhuhur terdengar sayup-sayup ketika melibas hutan Jatipandak, terpadu dengan suara burung yang berkicau. Sejenak mematikan mesin dan menikmati harmoni alam di keteduhan canopy pohon jati. feel fresh!!
Melibas kembali jalanan tadi, skok pio pun masih menimbulkan bunyi ngik ngik..bhuahahaha..
Lepas dari kambangan, istirahat dulu di gubug tengah hutan di hutan kambangan. dan air mineralpun ludes. Haus banget bro, rasa haus kembali dituntaskan dengan makan pagi rapel dengan makan siang di Ploso.
Dengan santainya menyusuri jalanan pulang ke kota Kediri.
See you on next adventure riding..









kalo jalan rusak..coba riding sambil berdiri kaya naik motocross..!! anggap saja ikut paris dakkar.. lumayan ngurangi pegel..
Iya mas, lha itu ada diatas sy tulis, namun gak cocok dengan postur saya yg tinggi. Kayak senggek’an.
Ngiri liatnya..kapan bs jalan2 kyk gt..hikz. Lanjutkan petualangannya brooo…tetep sefti n semangat
Makasih bro..
GPS’e Di tali pake karet apan tu bang???
Biar kuat pak. Buat penguat saja.hehe. takut jatuh.
Jadi kangen bawa Scorpio, kemana aja ayok…..
Matur nuwun cerita2nya mas… Menambah wawasan.
Kelemahan ke-3 Ninja 250 FI
http://7leopold7.wordpress.com/2013/02/16/kelemahan-ke-3-ninja-250-fi/
Semoga Ninja Fi nya lekas sembuh mas
makasih bro….
Pakai Navitel saja,kang…kaya’nya lebih NICE!! Saya masuk Hutan Belantara Baluran saja tetap ada route_nya(walau gak ada nama jalannya)
Sik tak download..
Okrek,sip!!!
keluar masuk hutan gitu gak takut cak? pernah ngalamin hal2 yg mistis gak? tulis sj buat nambahin ceritanya si yudi batang
Alhamdulillah tidak mas. Selama ini aman2 saja. Wah, moga2 gak ktemu dedemit kyk mas yudi batang.
gps nya pake apa itu ?
Superspring sf 410